DAFTAR ISTILAH EKOLOGI LAUT TROPIS

Isnaini Sofiyani          230210080009

Bandari A. Fitranti    230210080013

Adaptasi Fisiologis : proses penyesuaian diri mahluk hidup terhadap lingkungan sekitarnya yang memperlihatkan perubahan sistem metabolisme dalam tubuhnya.

Algae : sekelompok organisme autotrof yang tidak memiliki organ dengan perbedaan fungsi yang nyata

Amensalisme : salah satu organisme dirugikan tapi organisme lainnya tidak diuntungkan maupun dirugikan.

Arus pasang surut : arus yang bergerak secara vertikal yang dipengaruhi oleh benda benda luar angkasa dan gaya sentrifungal.

Autotrophic : organisme yang mampu mensistesis makanannya sendiri yang berupa bahan organik dari bahan-bahan anorganik sederhana dengan bantuan sinar matahari dan zat hijau daun(klorofil)

Benthos : biota yang hidup di atas atau di dalam dasar laut, baik itu tumbuh-tumbuhan maupun hewan.

Biosfer : bagian luar dari planet Bumi, mencakup udara, daratan, dan air, yang memungkinkan kehidupan dan proses biotik berlangsung.

Coastal : sebuah bentuk geografis yang terdiri dari pasir, dan terdapat di daerah pesisir laut.

Dekomposer : organism pengurai bahan organik

Difusi : peristiwa mengalirnya/berpindahnya suatu zatdalam pelarut dari bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah.

Diversitas : mengacu pada macam dan kelimpahan spesies, komposisi genetiknya, dan komunitas, ekosistem dan bentang alam di mana mereka berada.

Ekologi laut tropis : ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungan dan yang lainnya di daerah laut tropis

Ekosistem : suatu komunitas tumbuh-tumbuhan, bahan dan organisme lainnya serta proses yang menghubungkan mereka; suatu sistem fungsi dan interaksi yang terdiri dari organisme hidup dan lingkungannya.

Ekosistem akuatik : ekosistem air atau perairan.

Ekosistem terestris : suatu kawasan daratan yang mencakup semua organisme di dalam suatu daerah yang saling memperngaruhi dengan lingkungan fisiknya sehingga arus energi mengarah ke struktur makanan, keanekaragaman biotik dan daur-daur bahan yang jelas di dalam sistem.

Erosi : peristiwa pengikisan padatan (sedimen, tanah, batuan, dan partikel lainnya) akibat transportasi angin, air atau es, karakteristik hujan, creep pada tanah dan material lain di bawah pengaruh gravitasi, atau oleh makhluk hidup semisal hewan yang membuat liang.

Estuaria : daerah litoral yang agak tertutup (teluk) di pantai, tempat sungai    bermuara dan air tawar dari sungai bercampur dengan air asin dari laut, biasanya berkaitan dengan pertemuan sungai dengan pantai.

Euryhaline : kisaran salinitas yang tinggi di suatu perairan.

Evolusi : (dalam kajian biologi) berarti perubahan pada sifat-sifat terwariskan suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi berikutnya

Feeding ground: tempat memberi makan untuk organisme perairan.

Fosfat : sebuah ion poliatomik atau radikall terdiri dari satu atom fosforus dan empat oksigen.

Fosfor : zat yang dapat berpendar karena mengalami fosforens (pendaran yang terjadi walaupun sumber pengeksitasinya telah disingkirkan).

Habitat : struktur lingkungan tempat hidup tumbuh-tumbuhan atau hewan, biasanya menurut tipe bentuk kehidupan utama

Herbivora : organisme pemakan tumbuhan

Heterotropic : menyusun kembali dan menguraikan bahan-bahan organik kompleks yang telah mati kedalam senyawa anorganik sederhana.

Intrusi : Masuknya air laut ke daratan

Karbon : unsur kimia yang mempunyai simbol C dan non atom 6 pada tabel periodik. Karbon merupakan unsur non-logam, bervalensi 4, dan memiliki beberapa alotrop, termasuk grafit dan intan.

Karnivora : organisme pemakan daging

Komensalisme : hubungan antara dua makhluk hidup yang menguntungkan salah satu pihak, tetapi tidak merugikan pihak lain.

Komponen abiotik : Unsur non-hayati lingkungan; tidak menyangkut kehidupan atau

Komponen Biotik :  Unsur hayai lingkungan,

Komunitas : sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama

Komunitas pelagik : kumpulan populasi organisme yang mampu hidup di segala tempat mulai dari permukaan sampai dasar di kolam air laut tidak terbatas pada hidup di dasar.

Konsumen : pemakan organisme produsen atau organisme autotrof

Lamun : sejenis ilalang laut yang hidup di dasar laut yang berpasir yang tidak begitu dalam dimana sinar matahari masih dapat menembus ke dasar hingga memungkinkan ilalang tersebut berfotosintesa.

Laut Kutub : sekumpulan air asin yang luas yang berhubungan dengan samudra yang terletak di daerah kutub.

Laut Subtropis : sekumpulan air asin yang luas yang berhubungan dengan samudra yang terletak di daerah subtropis.

Laut Tropis : sekumpulan air yang luas yang berhubungan dengan samudra yang terletak di daerah tropis.

Lautan : satu kesatuan dari permukaan, kolom air sampai ke dasar dan bawah  dasar laut.

Limbah panas : buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi industri seperti dari PLTU.

Mangrove : tumbuhan yang terdapat di wilayah pesisir yang selalu terkena pasang surut dan  tahan terhadap kadar garam.

marine biology :  ilmu yang mempelajari kehidupan di laut (makhluk hidup beserta interaksinya dengan lingkungan).

marine ecology : ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme laut dengan lingkungannya dan yang lainnya

marine sciences : ilmu pengetahuan yang mempelajari kelautan menjadi bahan anorganik yang lebih sederhana lagi.

Mutualisme : hubungan sesama mahkluk hidup yang saling menguntungkan kedua pihak.

Navigasi : penentuan posisi dan arah perjalanan baik di medan sebenarnya atau di peta, dan oleh sebab itulah pengetahuan tentang kompas dan peta.

Netral : Hubungan tidak saling mengganggu antarorganisme dalam habitat yang sama yang bersifat tidak menguntungkan dan tidak merugikan kedua belah pihak

Niche atau nicia atau ecological niche : Konsep Relung tidak hanya meliputi ruang/tempat yang ditingggali organisme, tetapi juga termasuk peranannya dalam komunitas atatu profesinya dalam komunitas, dan posisinya juga juga pada gradient lingkungan berupa temperatur, kelembaban, ph, tanah, dan kondisi lainnya.

Nitrat : senyawa natrium klorida

Nitrogen : sebuah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang N dan nomor atom 7.

Nursery ground   : tempat pengasuhan ikan.

Nutrien : unsur atau senyawa kimia yang digunakan untuk metabolisme atau fisiologi organisme.

Oksigen : unsur kimia dalam sistem tabel periodik yang mempunyai lambang O dan nomor atom 8. Ia merupakan unsur golongan kalkogen dan dapat dengan mudah bereaksi dengan hampir semua unsur lainnya (utamanya menjadi oksida).

Oligostenohaline     : kisaran salinitas perairan tawar.

Organisme : kumpulan molekul-molekul yang saling mempengaruhi sedemikian sehingga berfungsi secara stabil dan memiliki sifat hidup.

Osmotroph : organisme heterotrofik

Parasitisme : hubungan antarorganisme yang berbeda spesies, bilasalah satu organisme hidup pada organisme lain dan mengambil makanan dari hospes/inangnya sehingga bersifat merugikan inangnya

Pesisir  : Wilayah peralihan antara laut dan daratan, ke arah darat mencakup  daerah yang masih terkena pengaruh percikan air laut atau pasang, dan ke arah laut meliputi daerah papaan benua.

pH : derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan

Phagotroph : Melakukan pengunyahan atau digesti senyawa organic dlm bentuk partikel padat.

Plankton : biota yang hidup di mintakat pelagik dan mengapung, menghanyut atau berenang sangat lemah, artinya mereka tak dapat melawan arus.

Populasi : sekumpulan individu dengan ciri-ciri sama (satu spesies yang sama) yang hidup dalam tempat dan waktu yang sama.

Predasi : hubungan antara mangsa dan pemangsa (predator).

Predator : binatang yang berburu dan memangsa binatang lain atau pemangsa.

Produktivitas primer : laju penambatan energi yang dilakukan oleh produsen yang menunjukkan jumlah energi cahaya yang diubah menjadi energi kimia oleh autotrof suatu ekosistem selama suatu periode.

Produsen : komponen autotrof yang menghasilkan makanannya sendiri dan dikonsumsi oleh konsumen

Respirasi : proses mobilisasi energi yang dilakukan jasad hidup melalui pemecahan senyawa berenergi tinggi (SET) untuk digunakan dalam menjalankan fungsi hidup. Dalam pengertian kegiatan kehidupan sehari-hari, respirasi dapat disamakan dengan pernapasan.

Salinitas : kadar garam yang umumnya dinyatakan dalam per mil atau per seribu atau ppt (part per thousand).

Sampah Anorganik : sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu, dan sebagainya.

Sampah Organik :  sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya.

Sedimen : endapan

Sedimentasi : suatu proses pengendapan material yang ditransport oleh media angin, air es atau gletser dalam suatu cekungan.

Siklus biogeokimia : siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik. Siklus unsur-unsur tersebut tidak hanya melalui organisme, tetapi jugs melibatkan reaksireaksi kimia dalam lingkungan abiotik

Spawning  ground   : tempat pemijahan ikan.

Stenohaline  : kisaran salinitas yang rendah di suatu perairan.

Suksesi primer : suksesi yang terjadi bila komunitas asal terganggu. Gangguan ini mengakibatkan hilangnya komunitas asal tersebut secara total sehingga di tempat komunitas asal terbentuk habitat baru.

Suksesi sekunder : suksesi yang terjadi bila suatu komunitas mengalami gangguan, balk secara alami maupun buatan. Gangguan tersebut tidak merusak total tempat tumbuh organisme sehingga dalam komunitas tersebut substrat lama dan kehidupan masih ada.

Terumbu karang : karang adalah jenis hewan laut berukuran kecil yang disebut polip, hidupnya menempel pada substrat seperti batu atau dasar yang keras dan berkelompok membentuk suatu koloni.

Transek Garis  :metode mengambil contoh untuk menggambarkan struktur komunitas karang dengan melihat tutupan karang hidup, karang mati, bentuk substrat (pasir, lumpur), alga dan keberadaan biota lain dengan menggunakan garis (tali).

Transek petak :metode pencuplikan contoh populasi suatu komunitas dengan pendekatan petak contoh yang berada pada garis yang ditarik melewati wilayah ekosistem tersebut.

Weathering : pelapukan

EKOSISTEM PESISIR JAWA BARAT BAGIAN UTARA

Isnaini Sofiyani                    230210080009

Bandari Arining Fitranti      230210080013

Universitas Padjajaran

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Program Studi Ilmu Kelautan

EKOSISTEM DI PANTAI BLANAKAN

Kabupaten Subang memiliki panjang pantai ±68 km, termasuk di antaranya Pantai Blanakan yang terletak di Pantai Utara Jawa Barat. Pantai Blanakan memiliki kedalaman yang relatif dangkal (kurang dari 20 m).  Wilayah pantai Blanakan Subang yang berbentuk seperti teluk memungkinkan terjadinya proses pengendapan sedimen dari sungai dan dari angkutan sedimen pantai menjadi lebih besar, sehingga di wilayah ini laju pendangkalan perairan sangat besar. Di wilayah timur pantai Subang dengan garis pantai memanjang dalam arah tenggara – barat laut cenderung mengalami penggerusan garis pantai (abrasi). Abrasi akan semakin parah apabila tidak ada ekosistem yang menghalaunya, contohnya mangrove, padang lamun, terumbu karang, dll.

Ekosistem yang ada di pantai Blanakan adalah ekosistem mangrove. Hutan mangrove yang terdapat di Kabupaten Subang merupakan hutan bakau binaan. Hutan mangrove di kawasan pantai Subang bagian utara berada di bawah otoritas pengelolaan Perum Perhutani BKPH Ciasem-Pamanukan. Spesies mangrove yang paling mendominasi di Blanakan, Subang adalah Avicennia marina atau tanaman bako-bako dan api-api. Avicennia banyak mendominasi di zona ini karena avicennia mampu beradaptasi dengan lingkungan mangrove yang sering mengalami perendaman oleh air laut karena letaknya yang dekat dengan laut. Avicennia mempunyai adaptasi yang tinggi dengan perakarannya. Hal ini dapat membantu spesies ini dalam mengikat sedimen yang banyak terdapat di pantai Blanakan.

Dalam proses rantai makanan yang berperan sebagai produsen dalam ekosistem mangrove di pantai Blanakan adalah daun dan batang mangrove yang kemudian diuraikan oleh detritus (fungi, bakteri dan protozoa). Hancuran bahan organik (detritus) ini kemudian menjadi bahan makanan penting (nutrien) bagi fitoplankton dan alga benthos. Cacing, crustacean yang kebanyakan hidup di substrat berlumpur, moluska, organisme bentos dan juvenile ikan  menjadi konsumen dari fitoplankton dan zooplankton. Ikan yang lebih besar akan memangsa ikan-ikan yang lebih kecil dan crustacean. Contoh ikan yang banyak terdapat di pantai Blanakan antara lain: ikan manyung (Arius thalassinus), ikan kembung (Rastrelliger kanagurta), ikan belanak (Valamugil seheli), ikan kurisi (Nemipterus nematophorus) dan ikan mata besar (Priacanthus tayenus). Ikan-ikan ini nantinya akan dimangsa oleh burung yang singgah atau tingal di hutan mangrove, kebanyakan terdapat burung Blekok sawah. Manusia memanfaatkan adanya  ekosistem ini untuk kebutuhannya sehari-hari, contoh: daun dari Avicennia juga sering dimanfaatkan oleh penduduk sekitar sebagai pakan untuk ternak karena memiliki protein yang tinggi, adanya mangrove juga sangat berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan dan kberlangsungan ekosistem tambak..

Terjadinya proses makan memakan di dalam rantai makanan mengakibatkan terjadinya perubahan energi, yang berasal dari suatu organisme ke organisme lainnya Matahari adalah sumber asal energi dalam rantai makanan. Karbon dari sinar matahari diserap oleh mangrove dan digunakan untuk proses fotosintesis, dari proses fotosintesis dihasilhkan energi dan oksigen yang nantinya akan dipergunakan oleh organisme lain untuk bernapas, dan nitrogen bebas diserap oleh akar,  Nitrogen berasal dari protein yang dikonversi menjadi amoniak oleh bakteri proteolitik dan jamur melalui proses amonifikasi. Kemudian amoniak dapat langsung digunakan sebagai sumber protein. Warna perairan di daerah hutan mangrove Blanakan berwarna hijau kecoklatan. Hal ini disebabkan oleh bahan organik dan anorganik yang terlarut dalam perairan hutan mangrove tersebut. Suhu perairan yang tinggi relative tinggi dapat mempengaruhi laju fotosintesis & pertumbuhan fitoplankton di perairan.

Menurut analisis data LANDSAT-TM Multitemporal tahun 1988, 1990, 1992 dan 1995 menunjukkan bahwa luasan mangrove di kawasan ini dalam periode 1988-1992 mengalami pengurangan luasan dari 2.087,7 ha pada tahun 1988 menjadi 1.729,9 ha tahun 1990 dan 958,2 ha tahun 1992. Pengurangan lahan ini terjadi akibat adanya konversi lahan untuk membuat tambak. Namun antara tahun 1992 dan 1995 terjadi penambahan luasan menjadi 3.074,3 ha. Penambahan luas pada periode akhir ini menunjukkan keberhasilan penggalakan dari program perhutanan sosial yang dilakukan melalui tambak tumpangsari (Budiman dan Dewanti, 1998). Tambak tumpangsari (Sylvofisheries) merupakan lahan tambak yang didalamnya mengkombinasikan bagian lahan untuk pemeliharaan ikan, kepiting atau udang dan bagian lahan untuk penanaman mangrove. Tumpangsari yang terdapat di pantai Blanakan kebanyakan berjenis empang parit. Dalam rantai makanan yang terjadi di tambak, yang berperan penting menjadi produsen adalah fitoplankton, kemudian sebagai konsumennya adalah zooplankton yang akan dimakan oleh larva ikan atau udang. Bakteri akan menguraikan organisme yang mati.

Di pantai Blanakan tidak terdapat ekosistem padang lamun dan terumbu karang. Kalau pun ada, kondisi karang-karang tersebut sebagian besar sudah mati, karena kondisi lingkungan yang tidak mendukung, seperti sedimentasi yang tinggi dan banyaknya aktifitas kegiatan manusia di kawasan tersebut.

Dari pembahasan di atas mengenai kehidupan rantai makanan dan alur energi serta materi salah satu pantai yang terletak di pesisir utara jawa barat tepatnya di pantai Blanakan, kecamatan Blanakan, kabupaten Subang, dapat disimpulkan bahwa ekosistem yang paling mendominasi adalah ekosistem mangrove dan tambak yang saling berhubungan dalam ketersediaan nutrien.  Dengan keadaan ekosistem mangrove yang cukup baik ini dapat meningkatkan hasil tangkapan ikan, dan masyarakat di sekitarnya pun dapat memanfaatkan keadaan tersebut untuk kehidupan sehari-harinya.

Sumber bacaan

Anonim. 2007. Laporan Akhir ATLAS Pesisir Utara Jawa Barat. BAPPEDA Jawa Barat.

Supriharyono. 2000. Pelestraian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. Gramedia. Jakarta.

Upnea, Water trappen and Floating

RESUME KULIAH RENANG Sabtu, 21 November 2009

Sebagai mahasiswi dari ilmu kelautan, Unpad angkatan 2008 mata kuliah yang paling saya sukai adalah RENANG. Tentu saja, karena hobi saya adalah berenang. Saya bersyukur sekali dapat berenang dengan baik berkat Pak Memed guru olahraga saya, ketika berada di SMPN 7 Bdg….”hatur nuhun pak!!s udah membuat saya jago dalam salah satu cabang olahraga, akhirnya!”.

Di dalam tulisan ini, saya memaparkan beberapa cara untuk melakukan upnea atau bahasa awamnya bertahan di bawah air.

Bismillah

Selamat membaca, semoga dapat bermanfaat !!

Awalnya saya sedikit kesal karena hari itu, saya yang tidak ikut nyemplung ke kolam renang gara-gara “tamu bulanan”, disuruh sang asisten renang untuk membuat resume kuliah renang. Tumben biasanya orang lain yang ga nyemplung biasanya ga disuruh bikin “
PR”. Yah daripada awalnya disuruh mentraktrir dosen dan semua asisten renang pikir saya lebih baik nulis resume ini…toh ini sudah menjadi suatu resiko dan untuk kebaikan saya juga supaya ilmu yang diajarkan sang asisten itu tertanam di otak saya karena saya tidak dapat mengaplikasikannya secara langsung pada saat itu.

Kuliah renang shift perempuan ini diikuti oleh Risa, Putri, Aisyah, Nais, Abrella, Shifa, Apriyanti, Dwijayanti, Indriani, Rina, Kaulina, Gusti, Tanti, Isnaini, Mellanie, Meta, Sandra, teh Endah dan teh Intan. Dengan dosen kang Baim dan asistennya kang Gober, kang Fahran, Riny dan Kiran. Kuliah renang kali ini sedikit terlambat karena menunggu asisten untuk membeli tiket.

Setelah semua berganti pakaian renang, pemanasan dilakukan lalu dilanjutkan dengan lari mengelilingi kolam renang. Pada saat itu kuliah renang dimulai sekitar pukul 09.00 pagi. Seperti biasa sebelum melakukan aktivitas renang, kita harus melakukan hiperventilasi sebanyak 5 kali untuk mengatur pernapasan. Dilanjutkan dengan renang 200 meter diusahakan agar hanya berhenti di ujung kolam dan tidak beristirahat terlalu lama.

Bagi yang telah selesai melakukan renang, dipersilahkan untuk beristirahat sebentar. Lalu sekitar pukul 10.00 kuliah renang dilanjutkan dengan belajar upnea. Setiap dua orang melakukan upnea secara bergantian sejauh 3 garis. Karena hanya beberapa orang saja yang bisa melakukan upnea, kang Gober mencontohkan bagaimana melakukan upnea yang benar. Ternyata entry untuk upnea dapat dilakukan dengan 3 gaya, yaitu:

  1. Kedua tangan memegang pinggir tembok, lalu kedua kaki ditolakkan ke tembok  paling atas,
  2. Satu tangan memegang pinggir tembok, dan menolakkan kaki ke tembok paling atas,
  3. Seluruh badan masuk ke dalam air

lalu meluncur ke dasar kolam dengan kepala menunduk, diusahakan dada hampir menempel ke dasar kolam. Setelah beberapa saat meluncur baru kita bergerak di dasar air menggunakan gaya dada dan membuang napas sedikit-sedikit. Sebelum melakukan upnea ada baiknya untuk kita melakukan hiperventilasi dan mengambil napas sebanyak-banyaknya agar dapat bertahan lebih lama di dasar air.

Setelah mendapat penjelasan tentang upnea, setiap dua orang yang tadi melakukan kembali upnea. Tetapi satu orang memulai upnea dari pinggir kolam, sedangkan yang satunya lagi dari tengah kolam. Upnea dimulai dari tengah kolam bertujuan agar secara tidak langsung kita dapat bertahan di permukaan air atau yang biasa kita sebut water trappen. Kemudian setelah semua mencoba melakukan upnea dari tengah kolam, ternyata tidak ada yang bisa melakukannya dengan benar. Maka kang Gober pun mencontohkan kembali bagaimana melakukan apnea dari tengah kolam, yaitu dengan memasukkan seluruh badan ke bawah air lalu langsung meluncur ke dasar kolam.

Lalu untuk terakhir kalinya seluruh mahasiswa disuruh melakukan apnea sejauh-jauhnya, kemudian langsung melakukan water trappen selama beberapa menit, dan dilanjutkan dengan floating. Selesai melakukan floating, semua berenang ke seberang kolam dan beristirahat. Sambil beristirahat setiap mahasiswa sharing tentang kemajuan berenang mereka masing-masing. Kemudian istirahat pun dilanjutkan kembali dengan renang 100 meter, setelah semua selesai berenang kuliah renang pun ditutup.

Alhamdulillah

Terima kasih 🙂

Dampak Positif dan Negatif El Nino La Nina Terhadap Sektor Perikanan

Isnaini Sofiyani

Universitas Padjajaran

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Program Studi Ilmu Kelautan

Secara sederhana El Nino dapat diartikan sebagai fenomena alam yang menyebabkan memanasnya suhu permukaan laut. Sedangkan La Nina adalah mendinginnya suhu permukaan laut. El Nino dan La Nina dikenal juga dengan El Nino Southern Oscillation (ENSO) yang berarti fenomena yang ditimbulkan karena adanya interaksi antara laut dengan atmosfer.

Dari berbgai sumber bacaan yang ada, dapat ketahui bahwa kondisi oseanografi di Indonesia ditentukan oleh Angin Monsoon, Angin Pasat dan Arus Lintas Indonesia. Pada Monsoon Barat, banyak massa air yang diangkut Arus Monsoon Indonesia dari Laut Jawa ke Laut Banda sehingga terjadi surplus. Untuk mengimbangi surplus tersebut terjadilah downwelling (di mana massa air panas dari permukaan laut didorong ke bawah) air di Laut Banda yang diikuti oleh arus mendatar ke arah Samudera Hindia. Sedangkan pada Monsoon Timur, Arus Monsoon Indonesia banyak mengangkut air ke Laut Jawa dari Laut Banda dan sekitarnya sehingga terjadilah defisit massa air. Defisit tersebut diimbangi dengan upwelling, naiknya massa air dari lapisan bawah ke permukaan laut yang umumnya berakibat menurunkan suhu, menaikkan nilai salinitas, oksigen dan berbagai unsur hara (Wyrtki, 1958, 1961; Ilahude et al., 1990; Wetsteyn et al., 1990; Zijlstra, 1990).

Fenomena El Nino dan La Nina ini, dapat menyebabkan dampak yang positif dan juga negatif terhadap lingkungan laut yang berimbas pada sektor perikanan, baik untuk pasar dalam negeri maupun luar negeri (ekspor).

Seperti pada saat terjadi El Nino di satu sisi dapat mengakibatkan meningkatnya suhu dan salinitas air laut yang dapat membahayakan padang lamun (sea grass) dan terumbu karang (coral reef) sebagai habitat dari berbagai jenis ikan. Padang lamun dan terumbu karang memiliki fungsi sebagai tempat pemijahan (spawning ground), pengasuhan (nursery ground) dan tempat mencari makan (feeding ground) bagi ikan-ikan. Padang lamun dan terumbu karang bila terkena sinar matahari berlebihan pertumbuhannya akan terganggu, rusak dan mati. Padang lamun dapat hidup dengan suhu optimum sekitar 28-30°C, kedalaman 0-22 m dan salinitas 25-35 ppt. Padang lamun memiliki nilai prodiktivitas yang tinggi yang bermanfaat bagi komunitas yang hidup di habitat tersebut. Ikan-ikan yang menghuni padang lamun, di antaranya: ikan-ikan parrot (Scarus dan Sparisoma), ikan surgeon (Acanthurus), ikan-ikan ballyhoo (Hemiramphus brasiliensis), ikan rudder (Kyphosus sectatrix), ikan trigger (Melichthys radula), dugong (Trichechus manatus), juvenile ikan, mollusca, echinoidea, dan crustacea. Sedangkan terumbu karang dapat tumbuh pada suhu 25-29°C, kedalaman 0-50 m dan salinitas 34-36 ppt. Pada saat El Nino, terjadi peningkatan pemutihan (bleaching) pada karang yang menyebabkan berkurangnya atau hilangnya ikan-ikan yang biasa hidup bergantung pada terumbu karang, begitu juga dengan padang lamun. Karena suhu yang semakin panas dan berkurangnya habitat, maka ikan-ikan akan melakukan migrasi ke tempat yang lebih dingin. El Nino juga mengakibatkan penurunan populasi ikan di Laut Pasifik, khususnya jenis pelagis seperti ikan sardine (Sardinops sagax), anchoveta (Engaulis ringens), ikan mackerel (Tranchurus murphyi dan Scomber japonicuperuanus) berkurang karena sedikitnya makanan yang tersedia. Hal ini semua dapat mengakibatkan berkurangnya hasil perikanan tangkap.

Di sisi lain upwelling juga dapat menaikkan biomassa plankton, yaitu seperti yang terjadi di wilayah Barat Sumatera dan Selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara terdapat peningkatan jumlah klorofil, plankton dan massa air yang mengandung banyak nutrien yang sangat bermanfaat bagi ikan. Pada saat inilah terdapat banyak ikan yang dapat menguntungkan dalam sektor perikanan tangkap.

Lain halnya dengan yang terjadi di darat, El Nino dapat menyebabkan kekeringan yang berkepanjangan dan persediaan air akan berkurang untuk pembudidayaan ikan kolam atau pun ikan keramba. Sedangkan pada saat La Nina, curah hujan tinggi dan sering terjadi badai di pantai, yang dapat menimbulkan banjir ikan-ikan atau pun udang yang berada di tambak akan meluap keluar karena kelebihan air. Akibat dari kekeringan kolam dan banjir ini dapat mempengaruhi produksi ikan.

Ikan adalah mahluk air yang sangat sensitive terhadap fluktuasi suhu dan cahaya yang ada di lingkungannya, ini juga akan berpengaruh pada sistem reproduksinya. Cahaya dan suhu adalah faktor yang memicu perkembangan gonad ikan dan bekerja sebagai isyarat yang menghubungkan perbedaan setiap fase dari siklus reproduksi ikan. Jadi semakin banyak intensitas cahaya (terang) maka perkembangan gonad ikan semakin cepat. Cahaya dan suhu yang diterima oleh ikan diproses oleh sel, jaringan dan organ dalam tubuhnya dan diubah menjadi sinyal untuk memproduksi hormon gonadotropin. Jadi pada saat El Nino, akan menguntungkan karena pada musim kemarau memacu ikan untuk memproduksi gonad, sedangkan pada saat terjadi La Nina yaitu, pada saat curah hujan yang tinggi, ikan akan memijah dengan baik. Karena cuaca sekarang ini yang semakin tidak menentu dan kita sukar memastikan kapan datangnya musim penghujan dan kemarau, dan berapa lamanya? Maka pada saat musim hujan yang panjang akibat La Nina ikan akan kekurangan cahaya matahari untuk memproduksi gonad. Untuk itu pada ikan budidaya di hatchery, dapat diatasi dengan cara pemberian cahaya dari lampu UV yang dapat diatur berapa intensitas cahaya dan suhu yang dibutuhkan.

Untuk meminimalisir dampak dari terjadinya fenomena alam El Nino dan La Nina dibutuhkan:

  1. Peran serta dari pemerintah yang membuat kebijakan dan masyarakat yang bersentuhan langsung dengan lingkungan tempat mereka tinggal.
  2. Meningkatkan program pemantauan laut untuk dapat memprediksi waktu kejadian, lama kejadian, dan sebaran wilayah yang akan terkena dampaknya.
  3. Melakuakn riset dan kerjasama internasional.
  4. Menyesuaikan sistem penataan ruang terhadap fenomena alam El Nino dan La Nina.
  5. Mengembangkan penjangkauan sistem informasi atau penyuluhan tentang El Nino dan La Nina secara cepat kepada nelayan atau pembudidaya ikan.
  6. Melakukan monitoring terhadap ekosistem yang ada di pesisir. Untuk terumbu karang dilakukan recovery atau transplantasi terumbu karang yang telah rusak dan membudidayakan padang lamun.
  7. Mengembangkan dan memfasilitasi pembudidaya untuk menerapkan teknik budidaya ikan yang tahan terhadap kondisi kekeringan, kebanjiran, dll

Sumber bacaan:

A. G. Ilahude & A. Nontji. Oseanografi Indonesia dan Perubahan Iklim Global (El Nino dan La Nina). LIPI

Dirjen Penataan Ruang. Penyesuaian Sistem Penataan Ruang Terhadap Perubahan Iklim. Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah. http://www.dirgantara-lapan.or.id/moklim/edukasi.html

Terima Kasih

Semoga dapat bermanfaat!!